Kyoto, kota tua yang pernah menjadi pusat kekaisaran Jepang selama lebih dari 1000 tahun menyimpan berbagai pesona budaya yang hingga ini masih dilestarikan. Salah satu atraksi budaya yang menarik para turis baik lokal maupun internasional adalah Matsuri yang berarti festival. Di Kyoto, ada 3 matsuri besar tahunan yang terkenal, yakni Aoi, Gion dan Jidai. Aoi matsuri diselenggarakan setiap bulan Mei (Spring),
Gion matsuri diselenggarakan setiap bulan Juli (Summer), dan Jidai matsuri diselenggarakan pada musim gugur di bulan Oktober. Baru saja di pertengahan bulan Mei ini Aio matsuri diselenggarakan di Kyoto, ini festival pertama yang sempat saya nikmati di Kyoto.
Sejarah Aoi Matsuri
Aoi matsuri telah diselenggarakan sejak
abad ke-6 masehi, ketika Jepang dibawah kekuasaan Kaisar Kinmei. Pada
masa itu terjadi bencana alam berupa hujan deras dan angin kencang yang
mengakibatkan kerusakan tanaman pangan. Akibat bencana tersebut, rakyat
Jepang dilanda kelaparan dan wabah penyakit yang telah menyebar
diseluruh negeri. Untuk menanggulangi bencana ini, Kaisar mengirim
utusannya untuk berdoa ke kuil Kamo dengan menyampaikan beberapa
persembahan kepada Dewa agar bencana segera dihentikan. Setelah bencana
benar-benar berhenti, Kaisar tetap mengirimkan persembahan ke kuil Kamo
setiap tahunnya, karena itu terkadang festival ini disebut Kamo Matsuri.
Aoi matsuri pernah dihentikan pada masa
Kamakura (tahun 1185-1333) dan berlanjut hingga masa Muromachi (tahun
1338-1573). Hal ini dikarenakan pada kedua masa itu, Jepang berada pada
masa kekacauan dengan terjadinya perang panjang yang berkecamuk di
internal para Shogun. Kemudian Aoi matsuri diselenggarakan kembali di
masa Edo setelah Kaisar memindahkan ibu kota Jepang ke Tokyo, yakni
sekitar tahun 1884 dengan maksud untuk menghidupkan lagi keramaian kota
Kyoto.
Aoi Matsuri di Spring 2011
Kamo Matsuri kemudian lebih terkenal dengan nama Aoi Matsuri, hal ini dikarenakan digunakannya daun Aoi (Hollyhocks)
sebagai bagian dari hiasan dikepala atau di tandu. Daun ini dipercaya
memiliki kekuatan untuk melindungi dari petir dan gempa bumi, serta
memberikan kemudahan bagi kelahiran bayi.

Bunga dan daun Aoi
Parade Aoi Matsuri melibatkan peserta
sebanyak 511 orang, 36 ekor kuda, 4 ekor sapo dan 2 buah gerobak yang
ditarik oleh sapi. Panjang dari parade ini 1 km dari peserta yang paling
depan hingga yang paling belakang. Dari sekian panjang parade ini, yang
paling menarik banyak perhatian penonton adalah peserta yang memerankan
Saio-dai, seorang putri raja pada jaman Heian yang diusung dalam tandu
dan diikuti oleh para hakim kerajaan. Putri raja tersebut mengenakan
pakaian jubah kerajaan yang terdiri dari 12 lembar.

Penampilan Saio-dai yang ditunggu oleh penonton festival
Iring-iringan parade ini berangkat dari
Istana Kaisar Jepang di Kyoto dari pukul 10.30 pagi melewati kuil
Shimogamo dan berakhir di kuil Kamigamo dengan membawa beberapa barang
persembahan dari kaisar untuk Dewa. Aoi Matsuri tidak hanya diikuti oleh
laki-laki dan wanita dewasa, tetapi juga diikuti oleh anak-anak.
Berikut hasil potretan saya di Aoi Matsuri spring tahun 2011.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar